Sebuah kisah yang bisa
mengingatkan kita akan kedua
Orang tua kita..
Suatu ketika, hiduplah sebatang
pohon apel besar dan anak lelaki
yang senang bermain-main di
bawah pohon apel itu setiap
hari.
Ia senang memanjatnya
hingga ke pucuk pohon,
memakan buahnya, tidur-
tiduran di keteduhan
rindang daun-daunnya.
Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu.
Demikian pula pohon apel
sangat mencintai anak kecil itu .
Waktu terus berlalu. Anak lelaki
itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan
pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon
apel. Wajahnya tampak sedih .
“ Ayo ke sini bermain-main lagi
denganku,” pinta pohon apel
itu. “Aku bukan anak kecil yang
bermain-main dengan pohon
lagi, ” jawab anak lelaki
itu.”Aku ingin sekali memiliki
mainan, tapi aku tak punya uang
untuk membelinya. ”
Pohon apel itu
menyahut,
“ Duh, maaf
aku pun tak
punya uang….
tetapi kau boleh mengambil
semua buah apelku dan
menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang untuk
membeli mainan
kegemaranmu. ” Anak lelaki itu
sangat senang. Ia lalu memetik
semua buah apel yang ada di
pohon dan pergi dengan penuh
suka cita. Namun, setelah itu
anak lelaki tak pernah datang
lagi. Pohon apel itu kembali
sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang
lagi. Pohon apel sangat senang
melihatnya datang . “Ayo
bermain-main denganku lagi,”
kata pohon apel. “Aku tak
punya waktu,” jawab anak
lelaki itu. “Aku harus bekerja
untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk
tempat tinggal . Maukah kau
menolongku ?” Duh, maaf aku
pun tak memiliki rumah.
Tapi kau boleh
menebang
semua dahan
rantingku untuk
membangun
rumahmu, ”
kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu
menebang semua dahan dan
ranting pohon apel itu dan pergi
dengan gembira. Pohon apel itu
juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak
lelaki itu tak pernah kembali
lagi. Pohon apel itu merasa
kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak
lelaki itu datang lagi. Pohon apel
merasa sangat bersuka cita
menyambutnya.. “Ayo
bermain-main lagi denganku,”
kata pohon apel.. “Aku
sedih ,” kata anak lelaki itu.
“Aku sudah tua dan ingin
hidup tenang.. Aku ingin pergi
berlibur dan berlayar. Maukah
kau memberi aku sebuah kapal
untuk pesiar ?”
“Duh, maaf aku tak punya
kapal, tapi kau boleh memotong
batang tubuhku dan
menggunakannya untuk
membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah . ”
Kemudian, anak lelaki itu
memotong batang pohon apel
itu dan membuat kapal yang
diidamkannya. Ia lalu pergi
berlayar dan tak pernah lagi
datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang
lagi setelah bertahun-tahun
kemudian. “Maaf anakku,”
kata pohon apel itu. “Aku
sudah tak memiliki buah apel
lagi untukmu. ” “Tak apa. Aku
pun sudah tak memiliki gigi
untuk mengigit buah apelmu,”
jawab anak lelaki itu..
“Aku juga tak memiliki batang
dan dahan yang bisa kau
panjat , ” kata pohon apel.
“Sekarang , aku sudah terlalu
tua untuk itu,” jawab anak
lelaki itu. “Aku benar-benar tak
memiliki apa-apa lagi yang bisa
aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku
yang sudah tua dan sekarat
ini, ” kata pohon apel itu sambil
menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa
lagi sekarang,” kata anak
lelaki.
“ Aku hanya membutuhkan
tempat untuk beristirahat. Aku
sangat lelah setelah sekian lama
meninggalkanmu. ” “Oooh,
bagus sekali. Tahukah kau, akar-
akar pohon tua adalah tempat
terbaik untuk berbaring dan
beristirahat. Mari, marilah
berbaring di pelukan akar-
akarku dan beristirahatlah
dengan tenang.” Anak lelaki itu
berbaring di pelukan akar-akar
pohon.
Pohon apel itu sangat gembira
dan tersenyum sambil
meneteskan air matanya.
Pohon apel itu adalah orang tua
kita .
Ketika kita muda, kita senang
bermain-main dengan ayah dan
ibu kita. Ketika kita tumbuh
besar, kita meninggalkan
mereka, dan hanya datang
ketika kita memerlukan sesuatu
atau dalam kesulitan. Tak peduli
apa pun, orang tua kita akan
selalu ada di sana untuk
memberikan apa yang bisa
mereka berikan untuk membuat
kita bahagia. Anda mungkin
berpikir bahwa anak lelaki itu
telah bertindak sangat kasar
pada pohon itu, tetapi begitulah
cara kita memperlakukan orang
tua kita.
Dan, yang terpenting: cintailah
orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita
sekarang, betapa kita
mencintainya; dan berterima
kasih atas seluruh hidup yang
telah dan akan diberikannya
pada kita.
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 05 Juni 2011
Senin, 30 Mei 2011
lelucon yang membuat kita tersadar
1. Ada dua orang, bapak dan
anaknya melihat sebuah mobil
impor yang sangat mewah.
Dengan nada yang tidak pantas
si anak berkata kepada ayahnya,
"Orang yang duduk dalam mobil
jenis ini, pastilah orang yang
kurang pendidikan."
Ayahnya lalu mejawab secara
sepintas lalu, "Orang yang
mengucapkan kata-kata
semacam ini, dalam sakunya
pasti tak punya uang!"
----------------------------------------------
Bagaimana pandangan Anda
mengenai masalah ini, apakah
juga mencerminkan sikap
sebenarnya dalam hati Anda?
2. Setelah makan malam,
seorang ibu dan putrinya
bersama-sama mencuci
mangkuk dan piring, sedangkan
ayah dan putranya menonton TV
di ruang tamu. Mendadak, dari
arah dapur terdengar suara
piring yang pecah, kemudian
sunyi senyap. Si putra
memandang ke arah ayahnya
dan berkata, "Pasti ibu yang
memecahkan piring itu."
"Bagaimana kamu tahu?" kata si
Ayah.
"Karena tak terdengar suara dia
memarahi orang lain."
----------------------------------------------
Kita semua sudah terbiasa
menggunakan standar yang
berbeda melihat orang lain dan
memandang diri sendiri,
sehingga acapkali kita menuntut
orang lain dengan serius, tetapi
memperlakukan diri sendiri
dengan penuh toleran.
3. Ada dua grup pariwisata yang
pergi bertamasya ke pulau Yi Do
di Jepang. Kondisi jalannya
sangat buruk, sepanjang jalan
terdapat banyak lubang. Salah
satu pemandu berulang-ulang
mengatakan keadaan jalannya
persis seperti orang yang
jerawatan.
Sedangkan pemandu yang
satunya lagi berbicara kepada
para turisnya dengan nada
puitis, "Yang kita lalui sekarang
ini adalah jalan protokol
ternama di Yi Do yang bernama
jalan berdekik yang
mempesona."
----------------------------------------------
Walaupun keadaannya sama,
namun pikiran yang berbeda
akan menimbulkan sikap yang
berbeda pula. Pikiran adalah
suatu hal yang sangat
menakjubkan, bagaimana
berpikir, keputusan berada di
tangan Anda.
4. Murid kelas 3 SD yang sama,
mereka memiliki cita-cita yang
sama pula yaitu menjadi badut.
Guru dari Tiongkok pasti
mencela, "Tidak mempunyai
cita-cita yang luhur, anak yang
tidak bisa dididik!"
Sedangkan guru dari Barat akan
bilang, "Semoga Anda
membawakan kecerian bagi
seluruh dunia!"
----------------------------------------------
Kita sebagai angkatan tua,
bukan hanya lebih banyak
menuntut daripada memberi
semangat, malahan sering
membatasi definisi keberhasilan
dengan arti yang sempit.
5. Istri sedang memasak di
dapur. Suami yang berada di
sampingnya mengoceh tak
berkesudahan, "Pelan sedikit,
hati-hati! Apinya terlalu besar.
Ikannya cepat dibalik,
minyaknya terlalu banyak!"
Istrinya secara spontan
menjawab, "Saya mengerti
bagaimana cara memasak ikan.
Suaminya dengan tenang
menjawab, "Saya hanya ingin
dirimu mengerti bagaimana
perasaan saya ... saat saya
sedang mengemudikan mobil,
engkau yang berada disamping
mengoceh tak ada hentinya."
----------------------------------------------
Belajar memberi kelonggaran
kepada orang lain itu tidak sulit,
asalkan Anda mau dengan serius
berdiri di sudut dan pandangan
orang lain melihat suatu
masalah.
6. Sebuah bus yang penuh
dengan muatan penumpang
sedang melaju dengan cepat
menelusuri jalanan yang
menurun, ada seseorang yang
mengejar bus ini dari belakang.
Seorang penumpang
mendongakkan kepala keluar
jendala bus dan berkata dengan
orang yang mengejar bus, "Hai
kawan! Sudahlah Anda tak
mungkin bisa mengejar!"
"Saya harus mengejar bus ini..."
Dengan nafas tersenggal-
senggal dia menjawab, "Saya
adalah pengemudi dari bus ini!"
----------------------------------------------
Ada sebagian orang harus
berusaha keras dengan sangat
serius, jika tidak demikian, maka
akibatnya akan sangat tragis!
Namun juga dikarenakan harus
menghadapi dengan sekuat
tenaga, maka kemampuan yang
masih terpendam dan sifat-sifat
khusus yang tidak diketahui
oleh orang lain selama ini akan
sepenuhnya muncul keluar.
7. Si A : "Tetangga yang baru
pindah itu sungguh jahat,
kemarin tengah malam dia
datang ke rumah saya dan terus
menerus menekan bel di rumah
saya."
Si B : "Memang sungguh jahat!
Adakah Anda segera melapor
polisi?"
Si A : "Tidak. Saya menganggap
mereka orang gila, yang terus
menerus meniup terompet kecil
saya."
----------------------------------------------
Semua kejadian pasti ada
sebabnya, jika sebelumnya kita
bisa melihat kekurangan kita
sendiri, maka jawabannya pasti
berbeda.
8. Zhang San sedang
mengemudikan mobil berjalan
di jalan pegunungan, ketika
dengan santai menikmati
pemandangan yang indah,
mendadak dari arah depan
datang sebuah truk barang.
Si sopir truk membuka jendela
dan berteriak dengan keras,
"Babi! Babi!"
Mendengar suara ini Zhang San
menjadi emosi, dia juga
membuka jendela memaki,
"Kamu sendiri yang babi!"
Baru saja selesai memaki, dia
telah bertabrakan dengan
gerombolan babi yang sedang
menyeberangi jalan.
----------------------------------------------
Jangan salah menafsirkan
maksud kebaikan dari orang
lain, hal tersebut akan
menyebabkan kerugian Anda,
juga membuat orang lain
terhina.
9. Seorang bocah kecil bertanya
kepada ayahnya, "Apakah
menjadi seorang ayah akan
selalu mengetahui lebih banyak
dari pada anaknya?"
Ayahnya menjawab, "Sudah
tentu!"
"Siapa yang menemukan
listrik?"
"Edison."
"Kalau begitu mengapa bukan
ayah Edison yang menemukan
listrik?"
----------------------------------------------
Pakar acapkali adalah kerangka
kosong yang tidak teruji, lebih-
lebih pada zaman pluralis
terbuka sekarang ini.
10. Ketika mandi Toto kurang
hati-hati telah menelan
sebongkah kecil sabun, ibunya
dengan gugup menelpon dokter
rumah tangga minta
pertolongan.
Dokter berkata, "Sekarang ini
saya masih ada beberapa pasien,
mungkin setengah jam
kemudian saya baru bisa datang
ke sana."
Ibu Toto bertanya, "Sebelum
Anda datang, apa yang harus
saya lakukan?"
Dokter itu menjawab, "Berikan
Toto secangkir air putih untuk
diminum, kemudian melompat-
lompat sekuat tenaga, maka
Anda bisa menyuruh Toto
meniupkan gelembung busa
dari mulut untuk menghabiskan
waktu."
----------------------------------------------
Jika peristiwa sudah terjadi,
mengapa tidak dihadapi dengan
tenang dan yakin. Dari pada
khawatir lebih baik berlega, dari
pada gelisah lebih baik tenang.
11. Sebuah gembok yang sangat
kokoh tergantung di atas pintu,
sebatang tongkat besi walaupun
telah menghabiskan tenaga
besar, masih juga tidak bisa
membukanya.
Kuncinya datang, badan kunci
yang kurus itu memasuki lubang
kunci, hanya diputar dengan
ringan, 'plak' gembok besar itu
sudah terbuka.
----------------------------------------------
Hati dari setiap insan, persis
seperti pintu besar yang telah
terkunci, walaupun Anda
menggunakan batang besi yang
besar pun tak akan bisa
membukanya. Hanya dengan
mencurahkan perhatian, Anda
baru bisa merubah diri menjadi
sebuah anak kunci yang halus,
masuk ke dalam sanubari orang
lain.
anaknya melihat sebuah mobil
impor yang sangat mewah.
Dengan nada yang tidak pantas
si anak berkata kepada ayahnya,
"Orang yang duduk dalam mobil
jenis ini, pastilah orang yang
kurang pendidikan."
Ayahnya lalu mejawab secara
sepintas lalu, "Orang yang
mengucapkan kata-kata
semacam ini, dalam sakunya
pasti tak punya uang!"
----------------------------------------------
Bagaimana pandangan Anda
mengenai masalah ini, apakah
juga mencerminkan sikap
sebenarnya dalam hati Anda?
2. Setelah makan malam,
seorang ibu dan putrinya
bersama-sama mencuci
mangkuk dan piring, sedangkan
ayah dan putranya menonton TV
di ruang tamu. Mendadak, dari
arah dapur terdengar suara
piring yang pecah, kemudian
sunyi senyap. Si putra
memandang ke arah ayahnya
dan berkata, "Pasti ibu yang
memecahkan piring itu."
"Bagaimana kamu tahu?" kata si
Ayah.
"Karena tak terdengar suara dia
memarahi orang lain."
----------------------------------------------
Kita semua sudah terbiasa
menggunakan standar yang
berbeda melihat orang lain dan
memandang diri sendiri,
sehingga acapkali kita menuntut
orang lain dengan serius, tetapi
memperlakukan diri sendiri
dengan penuh toleran.
3. Ada dua grup pariwisata yang
pergi bertamasya ke pulau Yi Do
di Jepang. Kondisi jalannya
sangat buruk, sepanjang jalan
terdapat banyak lubang. Salah
satu pemandu berulang-ulang
mengatakan keadaan jalannya
persis seperti orang yang
jerawatan.
Sedangkan pemandu yang
satunya lagi berbicara kepada
para turisnya dengan nada
puitis, "Yang kita lalui sekarang
ini adalah jalan protokol
ternama di Yi Do yang bernama
jalan berdekik yang
mempesona."
----------------------------------------------
Walaupun keadaannya sama,
namun pikiran yang berbeda
akan menimbulkan sikap yang
berbeda pula. Pikiran adalah
suatu hal yang sangat
menakjubkan, bagaimana
berpikir, keputusan berada di
tangan Anda.
4. Murid kelas 3 SD yang sama,
mereka memiliki cita-cita yang
sama pula yaitu menjadi badut.
Guru dari Tiongkok pasti
mencela, "Tidak mempunyai
cita-cita yang luhur, anak yang
tidak bisa dididik!"
Sedangkan guru dari Barat akan
bilang, "Semoga Anda
membawakan kecerian bagi
seluruh dunia!"
----------------------------------------------
Kita sebagai angkatan tua,
bukan hanya lebih banyak
menuntut daripada memberi
semangat, malahan sering
membatasi definisi keberhasilan
dengan arti yang sempit.
5. Istri sedang memasak di
dapur. Suami yang berada di
sampingnya mengoceh tak
berkesudahan, "Pelan sedikit,
hati-hati! Apinya terlalu besar.
Ikannya cepat dibalik,
minyaknya terlalu banyak!"
Istrinya secara spontan
menjawab, "Saya mengerti
bagaimana cara memasak ikan.
Suaminya dengan tenang
menjawab, "Saya hanya ingin
dirimu mengerti bagaimana
perasaan saya ... saat saya
sedang mengemudikan mobil,
engkau yang berada disamping
mengoceh tak ada hentinya."
----------------------------------------------
Belajar memberi kelonggaran
kepada orang lain itu tidak sulit,
asalkan Anda mau dengan serius
berdiri di sudut dan pandangan
orang lain melihat suatu
masalah.
6. Sebuah bus yang penuh
dengan muatan penumpang
sedang melaju dengan cepat
menelusuri jalanan yang
menurun, ada seseorang yang
mengejar bus ini dari belakang.
Seorang penumpang
mendongakkan kepala keluar
jendala bus dan berkata dengan
orang yang mengejar bus, "Hai
kawan! Sudahlah Anda tak
mungkin bisa mengejar!"
"Saya harus mengejar bus ini..."
Dengan nafas tersenggal-
senggal dia menjawab, "Saya
adalah pengemudi dari bus ini!"
----------------------------------------------
Ada sebagian orang harus
berusaha keras dengan sangat
serius, jika tidak demikian, maka
akibatnya akan sangat tragis!
Namun juga dikarenakan harus
menghadapi dengan sekuat
tenaga, maka kemampuan yang
masih terpendam dan sifat-sifat
khusus yang tidak diketahui
oleh orang lain selama ini akan
sepenuhnya muncul keluar.
7. Si A : "Tetangga yang baru
pindah itu sungguh jahat,
kemarin tengah malam dia
datang ke rumah saya dan terus
menerus menekan bel di rumah
saya."
Si B : "Memang sungguh jahat!
Adakah Anda segera melapor
polisi?"
Si A : "Tidak. Saya menganggap
mereka orang gila, yang terus
menerus meniup terompet kecil
saya."
----------------------------------------------
Semua kejadian pasti ada
sebabnya, jika sebelumnya kita
bisa melihat kekurangan kita
sendiri, maka jawabannya pasti
berbeda.
8. Zhang San sedang
mengemudikan mobil berjalan
di jalan pegunungan, ketika
dengan santai menikmati
pemandangan yang indah,
mendadak dari arah depan
datang sebuah truk barang.
Si sopir truk membuka jendela
dan berteriak dengan keras,
"Babi! Babi!"
Mendengar suara ini Zhang San
menjadi emosi, dia juga
membuka jendela memaki,
"Kamu sendiri yang babi!"
Baru saja selesai memaki, dia
telah bertabrakan dengan
gerombolan babi yang sedang
menyeberangi jalan.
----------------------------------------------
Jangan salah menafsirkan
maksud kebaikan dari orang
lain, hal tersebut akan
menyebabkan kerugian Anda,
juga membuat orang lain
terhina.
9. Seorang bocah kecil bertanya
kepada ayahnya, "Apakah
menjadi seorang ayah akan
selalu mengetahui lebih banyak
dari pada anaknya?"
Ayahnya menjawab, "Sudah
tentu!"
"Siapa yang menemukan
listrik?"
"Edison."
"Kalau begitu mengapa bukan
ayah Edison yang menemukan
listrik?"
----------------------------------------------
Pakar acapkali adalah kerangka
kosong yang tidak teruji, lebih-
lebih pada zaman pluralis
terbuka sekarang ini.
10. Ketika mandi Toto kurang
hati-hati telah menelan
sebongkah kecil sabun, ibunya
dengan gugup menelpon dokter
rumah tangga minta
pertolongan.
Dokter berkata, "Sekarang ini
saya masih ada beberapa pasien,
mungkin setengah jam
kemudian saya baru bisa datang
ke sana."
Ibu Toto bertanya, "Sebelum
Anda datang, apa yang harus
saya lakukan?"
Dokter itu menjawab, "Berikan
Toto secangkir air putih untuk
diminum, kemudian melompat-
lompat sekuat tenaga, maka
Anda bisa menyuruh Toto
meniupkan gelembung busa
dari mulut untuk menghabiskan
waktu."
----------------------------------------------
Jika peristiwa sudah terjadi,
mengapa tidak dihadapi dengan
tenang dan yakin. Dari pada
khawatir lebih baik berlega, dari
pada gelisah lebih baik tenang.
11. Sebuah gembok yang sangat
kokoh tergantung di atas pintu,
sebatang tongkat besi walaupun
telah menghabiskan tenaga
besar, masih juga tidak bisa
membukanya.
Kuncinya datang, badan kunci
yang kurus itu memasuki lubang
kunci, hanya diputar dengan
ringan, 'plak' gembok besar itu
sudah terbuka.
----------------------------------------------
Hati dari setiap insan, persis
seperti pintu besar yang telah
terkunci, walaupun Anda
menggunakan batang besi yang
besar pun tak akan bisa
membukanya. Hanya dengan
mencurahkan perhatian, Anda
baru bisa merubah diri menjadi
sebuah anak kunci yang halus,
masuk ke dalam sanubari orang
lain.
Minggu, 08 Mei 2011
lubang paku di pagar
Ada seorang anak laki-laki yang
memiliki temperamen yang
sangat buruk, dia seorang
pemarah. Suatu saat ayahnya
ingin mengajarkan sebuah
pelajaran kepadanya, jadi dia
memberikan sekantong paku
kepada anaknya dan
mengatakan setiap kali dia
tidak bisa mengendalikan
amarahnya, dia harus
memakukan sebuah paku di
pagar kayu rumah mereka.
Di hari pertama pelajaran itu,
anak laki-laki itu menancapkan
37 paku di pagar karena dia
sangat marah. Melewati
pelajaran itu selama beberapa
minggu, akhirnya anak itu
mulai dapat mengontrol
emosinya, sehingga jumlah
paku yang dipalukan ke pagar
semakin berkurang.
Tidak lama setelah itu, anak itu
menyadari bahwa lebih mudah
untuk mengendalikaan
emosinya daripada harus
menancapkan paku ke pagar.
Sampai suatu saat dia tidak lagi
pemarah, dia sangat bangga
dengan dirinya sendiri dan
ingin segera memberitahu
ayahnya. Senang dengan
pencapaiannya, ayahnya
menyuruhnya untuk mencabut
kembali paku-paku yang ada
dipagar yang ditancapkan pada
saat dia marah.
Beberapa minggu kemudian,
ketika dia memberitahu
ayahnya bahwa semua paku
sudah berhasil dicabutnya.
Dengan lembut, sang ayah
menuntun anaknya menuju
pagar rumah mereka. Sambil
tersenyum ayahnya
berkata,"Kamu sudah
mengerjakan dengan baik,
anakku. Tetapi coba lihat ada
banyak sekali lubang di pagar
ini. Pagar ini tidak akan terlihat
sama lagi."
Anak itu memperhatikan ketika
ayahnya melanjutkan kata-
katanya," Ketika kamu
mengatakan sesuatu dalam
kemarahan, kata-kata itu akan
meninggalkan bekas yang
permanent. Tidak peduli berapa
kali kamu berkata maaf, lubang
itu akan tetap di sana."
Hendaknya kita bijaksana
dengan kata-kata kita karena
kata-kata kita bisa melukai
orang lain. "Hai saudara-
saudara yang kukasihi, ingatlah
hal ini: setiap orang hendaklah
cepat untuk mendengar, tetapi
lambat untuk berkata-kata, dan
juga lambat untuk marah;
sebab amarah manusia tidak
mengerjakan kebenaran di
hadapan Allah.
Sahabat, sadarkah kamu sudah berapa lubang yang kamu buat pada hati orang lain....?
memiliki temperamen yang
sangat buruk, dia seorang
pemarah. Suatu saat ayahnya
ingin mengajarkan sebuah
pelajaran kepadanya, jadi dia
memberikan sekantong paku
kepada anaknya dan
mengatakan setiap kali dia
tidak bisa mengendalikan
amarahnya, dia harus
memakukan sebuah paku di
pagar kayu rumah mereka.
Di hari pertama pelajaran itu,
anak laki-laki itu menancapkan
37 paku di pagar karena dia
sangat marah. Melewati
pelajaran itu selama beberapa
minggu, akhirnya anak itu
mulai dapat mengontrol
emosinya, sehingga jumlah
paku yang dipalukan ke pagar
semakin berkurang.
Tidak lama setelah itu, anak itu
menyadari bahwa lebih mudah
untuk mengendalikaan
emosinya daripada harus
menancapkan paku ke pagar.
Sampai suatu saat dia tidak lagi
pemarah, dia sangat bangga
dengan dirinya sendiri dan
ingin segera memberitahu
ayahnya. Senang dengan
pencapaiannya, ayahnya
menyuruhnya untuk mencabut
kembali paku-paku yang ada
dipagar yang ditancapkan pada
saat dia marah.
Beberapa minggu kemudian,
ketika dia memberitahu
ayahnya bahwa semua paku
sudah berhasil dicabutnya.
Dengan lembut, sang ayah
menuntun anaknya menuju
pagar rumah mereka. Sambil
tersenyum ayahnya
berkata,"Kamu sudah
mengerjakan dengan baik,
anakku. Tetapi coba lihat ada
banyak sekali lubang di pagar
ini. Pagar ini tidak akan terlihat
sama lagi."
Anak itu memperhatikan ketika
ayahnya melanjutkan kata-
katanya," Ketika kamu
mengatakan sesuatu dalam
kemarahan, kata-kata itu akan
meninggalkan bekas yang
permanent. Tidak peduli berapa
kali kamu berkata maaf, lubang
itu akan tetap di sana."
Hendaknya kita bijaksana
dengan kata-kata kita karena
kata-kata kita bisa melukai
orang lain. "Hai saudara-
saudara yang kukasihi, ingatlah
hal ini: setiap orang hendaklah
cepat untuk mendengar, tetapi
lambat untuk berkata-kata, dan
juga lambat untuk marah;
sebab amarah manusia tidak
mengerjakan kebenaran di
hadapan Allah.
Sahabat, sadarkah kamu sudah berapa lubang yang kamu buat pada hati orang lain....?
sebelum kamu mengeluh
1. Hari ini sebelum kamu
mengatakan kata-kata yang
tidak baik, Pikirkan tentang
seseorang yang tidak dapat
berbicara sama sekali.
2. Sebelum kamu mengeluh
tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang
tidak punya apapun untuk
dimakan.
3. Sebelum anda mengeluh
tidak punya apa-apa, Pikirkan
tentang seseorang yang
meminta-minta dijalanan.
4. Sebelum kamu mengeluh
bahwa kamu buruk, Pikirkan
tentang seseorang yang berada
pada tingkat yang terburuk
didalam hidupnya.
5. Sebelum kamu mengeluh
tentang suami atau istri anda,
Pikirkan tentang seseorang yang
memohon kepada Tuhan untuk
diberikan teman hidup.
6. Hari ini sebelum kamu
mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang
meninggal terlalu cepat.
7. Sebelum kamu mengeluh
tentang anak-anakmu, Pikirkan
tentang seseorang yang sangat
ingin mempunyai anak tetapi
dirinya mandul.
8. Sebelum kamu mengeluh
tentang rumahmu yang kotor
karena pembantumu tidak
mengerjakan tugasnya, Pikirkan
tentang orang-orang yang
tinggal dijalanan.
9. Sebelum kamu mengeluh
tentang jauhnya kamu telah
menyetir, Pikirkan tentang
seseorang yang menempuh
jarak yang sama dengan
berjalan.
10. Dan disaat kamu lelah dan
mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran,
orang-orang cacat yang
berharap mereka mempunyai
pekerjaan seperti anda.
11. Sebelum kamu
menunjukkan jari dan
menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada
seorangpun yang tidak berdosa.
12. Dan ketika kamu sedang
bersedih dan hidupmu dalam
kesusahan, Tersenyum dan
berterima kasihlah kepada
Tuhan bahwa kamu masih
hidup...!
mengatakan kata-kata yang
tidak baik, Pikirkan tentang
seseorang yang tidak dapat
berbicara sama sekali.
2. Sebelum kamu mengeluh
tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang
tidak punya apapun untuk
dimakan.
3. Sebelum anda mengeluh
tidak punya apa-apa, Pikirkan
tentang seseorang yang
meminta-minta dijalanan.
4. Sebelum kamu mengeluh
bahwa kamu buruk, Pikirkan
tentang seseorang yang berada
pada tingkat yang terburuk
didalam hidupnya.
5. Sebelum kamu mengeluh
tentang suami atau istri anda,
Pikirkan tentang seseorang yang
memohon kepada Tuhan untuk
diberikan teman hidup.
6. Hari ini sebelum kamu
mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang
meninggal terlalu cepat.
7. Sebelum kamu mengeluh
tentang anak-anakmu, Pikirkan
tentang seseorang yang sangat
ingin mempunyai anak tetapi
dirinya mandul.
8. Sebelum kamu mengeluh
tentang rumahmu yang kotor
karena pembantumu tidak
mengerjakan tugasnya, Pikirkan
tentang orang-orang yang
tinggal dijalanan.
9. Sebelum kamu mengeluh
tentang jauhnya kamu telah
menyetir, Pikirkan tentang
seseorang yang menempuh
jarak yang sama dengan
berjalan.
10. Dan disaat kamu lelah dan
mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran,
orang-orang cacat yang
berharap mereka mempunyai
pekerjaan seperti anda.
11. Sebelum kamu
menunjukkan jari dan
menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada
seorangpun yang tidak berdosa.
12. Dan ketika kamu sedang
bersedih dan hidupmu dalam
kesusahan, Tersenyum dan
berterima kasihlah kepada
Tuhan bahwa kamu masih
hidup...!
renungan: cerita cinta seorang gadis buta
ada
seorang gadis buta yang
membenci dirinya sendiri karena
kebutaannya itu. Tidak hanya
terhadap dirinya sendiri, tetapi
dia juga membenci semua orang
kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada
disampingnya untuk menemani
dan menghiburnya. Dia berkata
akan menikahi kekasihnya hanya
jika dia bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang
mendonorkan sepasang mata
kepadanya sehingga dia bisa
melihat semua hal, termasuk
kekasihnya. Kekasihnya
bertanya, “Sekarang kamu bisa
melihat dunia. Apakah kamu
mau menikah denganku?”
Gadis itu terguncang saat
melihat bahwa kekasihnya
ternyata buta. Dia menolak
untuk menikah dengannya.
Kekasihnya pergi dengan air
mata mengalir, dan kemudian
menulis sepucuk suratsingkat
kepada gadis itu, “Sayangku,
tolong jaga baik-baik mata
saya.”
Kisah di atas memperlihatkan
bagaimana pikiran manusia
berubah saat status dalam
hidupnya berubah. Hanya sedikit
orang yang ingat bagaimana
keadaan hidup sebelumnya dan
lebih sedikit lagi yang ingat
terhadap siapa harus berterima
kasih karena telah menyertai
dan menopang bahkan di saat
yang paling menyakitkan.
seorang gadis buta yang
membenci dirinya sendiri karena
kebutaannya itu. Tidak hanya
terhadap dirinya sendiri, tetapi
dia juga membenci semua orang
kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada
disampingnya untuk menemani
dan menghiburnya. Dia berkata
akan menikahi kekasihnya hanya
jika dia bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang
mendonorkan sepasang mata
kepadanya sehingga dia bisa
melihat semua hal, termasuk
kekasihnya. Kekasihnya
bertanya, “Sekarang kamu bisa
melihat dunia. Apakah kamu
mau menikah denganku?”
Gadis itu terguncang saat
melihat bahwa kekasihnya
ternyata buta. Dia menolak
untuk menikah dengannya.
Kekasihnya pergi dengan air
mata mengalir, dan kemudian
menulis sepucuk suratsingkat
kepada gadis itu, “Sayangku,
tolong jaga baik-baik mata
saya.”
Kisah di atas memperlihatkan
bagaimana pikiran manusia
berubah saat status dalam
hidupnya berubah. Hanya sedikit
orang yang ingat bagaimana
keadaan hidup sebelumnya dan
lebih sedikit lagi yang ingat
terhadap siapa harus berterima
kasih karena telah menyertai
dan menopang bahkan di saat
yang paling menyakitkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
